Syahadat Kedua
Oleh:Sartika Sari
Asmara cinta dalam ranah manusia
Berdendang indah diantara simfoni dunia
Memenuhi serambi mimpi dengan untaian khayal berdua
Untuk bercinta, berpeluk dan bermandikan nafsu birahi semata
Begitu pekatnya pesona yang membahana jiwa
Merampas habis kasih yang tecipta untuk Nya
Menjadi rasa yang berlatar kepalsuan geliat dalam degup nyawa
Hingga tabir kelampun menudungi raga bersanding dosa
Nurani telah terinfeksi virus cinta terlarang
Dan kini rindu membusuk dipenuhi nanah hitam
Menganga digerogoti belatung harap dekapan sayang
Serta kehadiran sang pengantin tubuh yang mencumbu selimut tulang
Asyhadu An-Laa Ilâha Illallâh
wa Asyhadu Anna Muhammadar Rasulullâh
Demi suara hati yang terdalam
Kan ku pasrahkan segenap hidupku pada Mu
Jiwaku renta menunggang tanpa pelana teguh
Sebab jarakku kian jauh terlena buaian setan perayu
Ya Malikul Ardi
Terimalah sembah sujud dari ranting kerontang ini
Aku jengah mengadu pada fana yang tak bertuah
Aku pongah merayap di atas cadas pasir realita
Ya Rabbi….
Ijinkan hamba kembali
Dan abadi dalam pembaringan suci surgawi
Rebahan Hitamku
Oleh:Sartika Sari
Hitam rebah di atas tadahan jemari lemah
Bulan tersungkir di balik awan kelam yang meraja
Bintang malampun berkerut dalam busana malam durja
Mendogma dunia untuk bersetubuh dengan murka
Tuhan….
Gemerisik benakku kian mengusang
Pecah terbelah kristal tajam kenyataan
Menjadi sesal yang tiada berkenan
Tuhan….
Andai Kau ijinkan aku memijak altar bahagia
Maka kan ku sulam air mata menjadi ceria
Sebab aku teramat rapuh dalam merapal kisah
Bahkan hanya berkawan pada nista
Ingin rasanya aku berteduh dalam kasih Mu
Menguntai peliknya realita menjadi jubah kesucian makna
Ku teramat berharap sapa lembut Mu
Maka ijinkan aku bertangkup
Melagukan rinduku pada Mu lewat bait-bait do’a yang khusuk
Penyerahan
Oleh:Sartika Sari
Putuskan nadi yang menggebu dalam tubuh ini
Cincang jemari yang selalu menyentuh ranah haram duniawi
Rajam hatiku yang senantiasa mengulas dengki
Lepuhkan aku yang berlumur dosa ini Ya Rabbi
Aku adalah nila diantara putih Mu
Akulah raga yang berpenuh sayatan maksiat disekujur tubuh
Aku tak lebih suci dari nifas yang berdebur bau
Ya khaliq….
Masihkah ada waktuku untuk menghapus hitam
Masihkah bisa aku menyulam kelam menjadi terang
Meski harus berkejar dengan waktu
Kan ku kayuh langkahku
Agar kelak aku bisa kembali dalam teduh keharibaan Mu
Taubat Penista Susila
Oleh:Sartika Sari
Langit retak di tanah maksiat
Bumi goyah terguncang nafsu yang menggeliat di ranah umat
Dunia galau tercabik perilaku para pengkhianat
Jiwa-jiwa kerdil mengusung tubuh ke entah
Meraut jejak di atas gelombang yang bermaram sampah
Tak ada kiblat yang mengarahkan do’a
Tak ada lagi tasbih yang mengaungkan sapa atas Nya
La illaha illallah….
Muhammadar Rasulullâh
Kami sadar akan laku yang membuat Mu murka
Maafkan kami
Kami mohon terimalah sembah sujud kami
Dengarlah nada perih dalam nurani yang tengah merintih
Ijinkan penista susila seperti kami
Meretas taubat dalam tempias suci
Ya Rahman….
Ya Rahim….
Kami memang teramat hina untuk bersujud di atas sajadah Mu
Kami tak layak sedikitpun mengadah pandangan Mu
Namun di akhir nafas yang masih terhela
Jabahlah taubat kami
Ampuni kami
Beri kami waktu untuk menebus dosa yang selama ini menodai agama Mu
Terimalah kami kembali pada Mu Ya Rabbi
Pengakuan Nurani
Oleh:Sartika Sari
Berpuluh rindu telah coba ku ukir dalam gulita
Memenuhi ruang tunggu di tengah malam buta
Dengan lukisan cerita nestapa
Ku sebut ini nestapa
Sebab sedikitpun tak ku temu bahagia yang sesungguhnya
Meski semua hati menguntai tawa
Meski dunia turut berlakon ceria
Aku masih menyulam durja dalam senja
Tertegun menjiwai fana yang meneguk nelangsa
Sebab semua cinta telah terabrasi kinesik tak bermakna
Aku merindu
Aku melangut sembari berharap untuk bertemu dengan Mu
Aku terpasung dalam jeruji keterasingan takdirku
Ya Rabbi….
Ya Rahman….
Ya Rahim….
Tunjuki aku titian cinta Mu
Beri aku setitik embun kasih Mu
Agar aku bisa merajut putih di telapak hatiku untuk Mu
Langganan:
Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar